Purnanto, Dua Kali Bersaing Lawan Istri

Wawancara Eksklusif Bersama Purnanto, Calon Kades Petahana Dua Kali Lawan Istri

BANGSALSARI – Pilkades serentak di Jember membuat iklim politik perdesaan panas dingin. Namun rupanya, hal itu tidak terjadi di Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari. Sebab untuk kedua kalinya, petahana kembali bertanding lawan istri tercinta.

Purnanto, sudah dua periode menjabat kades di Badean. Periode pertama, dia masih memiliki lawan politik. Namun di kontestasi periode kedua (2013) dan periode ketiganya (2019), tak ada warga desa yang sanggup menyanginya. Alhasil, terpaksa sang istri – Rahmawati, dicalonkan jadi kades “bayangan” menemaninya. “Istri menemani, bukan menyangi,” katanya dengan senyuman, Minggu (4/8).

Sejak awal terpilih jadi kades di tahun 2016 lalu, Purnanto, sudah berikhtiyar menjadi “bapaknya” warga Badean. Saat itu, usianya memang masih 28 tahun. Namun faktanya, warga di desanya merasa cocok memiliki pemimpin sepertinya.

Melihat kekuatan dukungan rakyatnya, Indikator Online mencoba melakukan wawancara khusus dengan kades berumur 40 tahun ini.

Anda sudah menjabat dua periode. Kali ini, akan beranjak ketiga periode. Apa yang membuat anda betah jadi kades?

Bagi saya, kades itu jabatan pengabdian. Bukan jabatan untuk mencari uang. Selama jadi kades, saya merasakan nikmat hidup yang bermanfaat.

Saya betah, bukan karena haus kekuasaan. Lebih karena, saya bisa membantu masyarakat dengan kebijakan. Artinya, saya bisa memanfaatkan uang negara yang diamanahkan ke saya, untuk membantu kepentingan masyarakat.

Kami menghitung, anda sudah dua kali maju di Pilkades tanpa lawan. Akhirnya istri jadi “lawan” politik semu. Bagaimana itu bisa terjadi?

Hidup ini tidak bisa diseting, kecuali kehendak Allah. Sama juga Pilkades. Saya tidak pernah mensekenariokannya. Hanya saja, saat tidak ada lagi yang mencalonkan selain saya, mau tidak mau saya melibatkan istri.

Tidak pernah saya membonekakan istri. Kalau siasat untuk memenuhi regulasi, itu wajar. Karena aturannya, calon kades minimal dua orang. Tapi semisal, istri saya lebih dikehendaki rakyat, saya pun ikhlas.

Tetapi yang pasti, saat ini saya sangat terharu. Ini legitimasi. Bahwa masyarakat di desa saya, percaya dan puas atas kinerja saya selama menjabat. Saya, tentu membalasnya dengan kinerja yang lebih baik lagi.

Boleh kami diberi tahu, apa kiat sukses anda memimpin desa?

Pertama ikhlas. Apa yang saya lakukan, semata-mata untuk masyarakat. Tidak boleh, bekerja ada pamrihnya.

Kedua, apa yang saya kerjakan, bukan atas kehendak saya. Melainkan keinginan rakyat. Apa yang mereka butuhkan, saya kerjakan. Sehingga apa yang kami programkan, tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.

Ketiga, apa yang saya kerjakan dengan jujur. Kejujuran itu sederhana, menyampaikan apa adanya. Sehingga di tengah perjalanan tidak timbul fitnah.

Selama 12 tahun jadi kades, adakah cara jitu yang paling jitu, menaklukan hati rakyat?

Saya tidak pernah merasa jadi pejabat. Kades itu seperti formalitas saja. Kira-kira begini, saya ini kades hanya mewakili masyarakat. Kades yang sesungguhnya rakyat. Jadi yang berkuasa itu rakyat Badean, bukan saya.

Sehingga yang saya rasakan selama ini, karena rakyat di Badean sudah merasa jadi kades, jadi ngapain lagi, mereka berebut jadi kades yang kata saya formalitas ini.

Maksudnya seperti apa? 

Jelas dan tegas, pembangunan di desa bukan Purnanto yang berfikir. Tetapi rakyat. Karena mereka sudah saya beri peran layaknya kades, akhirnya mereka juga merasa bertanggungjawab atas desanya. Saya dan perangkat desa, menjalankan kerja sesuai yang rakyat inginkan.

Periode ketiga nanti, program kerja apa yang anda tawarkan?

Saya menawarkan program apa yang diinginkan rakyat. Mereka butuh aman, saya pun memfasilitasi keamanan. Bukan saya sendirian, tapi bersama rakyat.

Mereka butuh infrastruktur. Mewujudkannya, dengan pengelolaan khas desa yang menjadi hak rakyat. Semua saya kasih sesuai kebutuhan. Tidak ada yang saya hambat. Karena uang itu, hak mereka.

Paling penting, saya harus jadi rakyat. Saat mereka butuh, saya harus ada di tengah mereka.

Seperti ada keluarga masyarakat yang meninggal, saya harus ada di pemakaman. Begitu juga saat ada masyarakat yang menikah, saat itu juga saya harus ada di KUA menemaninya. Ya, seperti konsep solidaritas. Hanya begitu.

Pembaca setia Indikator Online, selain Purnanto dan istri, masih ada banyak lagi calon kades yang tak menemukan lawan dan akhirnya harus berkontestasi lawan istri. Seperti apa? simak berita berikutnya (Rully Efendi – Bersambung)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password