Administrasi Desa Kian Tertata

JEMBER – Proses administrasi di desa dinilai kian tertata. Ini tak lepas dari peran pendamping desa yang selama tiga tahun terakhir konsern mengawal program dana desa (DD). Bahkan, berkat pendampingan terebut akses informasi keuangan di desa juga semakin terbuka.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispemasdes) Jember Eko Heru Sunarso mengatakan, peran pendamping desa ini sangat penting. Apalagi, tugas mereka merupakan amanat Peraturan Menteri Desa (Permendesa) Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pendamping Desa.

Menurut dia, pendamping desa ini nantinya yang akan membantu pemerintah dalam mengawal dan memfasilitasi desa untuk menyukseskan program Presiden melalui Kementerian Desa (Kemendes). Makanya, para pendamping desa yang terpilih adalah mereka yang memiliki kompetensi dalam melakukan tugas fasilitasi. “Jadi pendamping harus mumpuni dalam mengawal program tersebut. Mereka juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pemberdayaan masyarakat,” ujarnya. Senin (4/3).

Selain itu, Heru menambahkan, pendamping desa juga harus memiliki pengalaman dalam pengorganisasian masyarakat desa, mampu melakukan pendampingan usaha ekonomi masyarakat, serta mampu melakukan teknik fasilitasi kelompok masyarakat desa. “Mereka juga wajib memiliki kepekaan terhadap kebiasaan, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya masyarakat desa,” katanya.

Keberadaan pendamping desa di Kabupaten Jember, Heru menilai, sudah memiliki kompetensi itu. Indikasinya, di setiap kegiatan mereka sudah menghasilkan perubahan yang mendasar. Semisal perbaikan adiministrasi di tingkat desa. “Hadirnya pendamping desa sangatlah membantu dinas. Sebab segala kebutuhan mulai permintaan data dan menyosialisasikan berbagai program dapat ditangani dengan cepat,” akunya.

Ternyata prestasi pendamping desa ini tidak dicapai secara instan. Ada proses panjang yang dilalui. Bahkan, tak sedikit tantangan yang dihadapi hingga mereka mampu mengubah cara pandang pemerintah desa.
Pendamping Lokal Desa (PLD) Kecamatan Tempurejo Sasli Rois mengatakan, awal dirinya ditugaskan di Kecamatan Tempurejo tiga tahun silam, cukup banyak tantangan yang dihadapi. Misalnya, aspek geografis di kecamatan setempat yang berkontur pegunungan.

Menurut dia, di empat desa yang menjadi dampingannya, medannya cukup sulit diakses kendaraan bermotor. Bahkan, jarak tempuh antar desa harus melewati jalan di kawasan perkebunan. Tak hanya itu, awal mula menjadi pendamping desa, dirinya juga sempat mendapat penolakan dari pemerintah desa. “Bahkan, ada yang sampai mengancam keselamatan saya. Karena dianggap merusak tatanan pemerintahan, serta hanya mengorek data keuangan,” tuturnya.

Mendapat acaman seperti itu, Sasli tidak menyerah. Semangat ini juga yang diikuti para pendamping desa lainnya. Demi menjalankan tugas pemberdayaan, mereka terus meyakinkan pemerintah desa bahwa keberadaan pendamping tidak akan menyulitkan, namun justru mempermudah desa dalam melakukan perencanaan hingga pelaporan pertanggungjawaban. Pungkasnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password