IAIN Jember Larang Mahasiswi Bercadar

JEMBER, Indikator – Apa hubungan cadar dengan aliran fundamental dalam Islam? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Melalui kebijakan barunya, kampus berbasis agama islam ini melarang mahasiswi mengenakan cadar.

Karena penutup muka kaum perempuan ini dinilai menjadi simbol ekspresi sekaligus gerakan islam fundamental, yang hari ini dianggap menjadi ancaman serius bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik IAIN Jember, Nur Solikin, Kamis 6 April kemarin menyatakan, IAIN Jember sudah membuat surat edaran yang ditandatangani rektor mengenai pencegahan paham anti NKRI dan Pancasila di lingkungan kampus setempat.

Yang salah satu tindaklanjutnya adalah, dikeluarkannya sebuah aturan mengenai tata cara berbusana oleh Fakultas Tarbiyah kampus setempat. Diantaranya, mahasiswi dilarang mengenakan cadar ketika mengikuti perkuliahan.

Alasan Pelarangan Cadar

Larangan penggunaan cadar diberlakukan, karena IAIN Jember merasa perlu menghalau paham radikal di kampus agama tersebut. Paham ini, dinilai menjadi ancaman bagi Negara karena tidak mengakui adanya NKRI dan Pancasila. Dalam hal ini, cadar, menjadi salah satu tanda yang paling mudah dikenali, bahwa mahasiswi itu mengikuti aliran fundamentalisme agama.

“Memang belum tentu, mahasiswi yang mengenakan cadar secara otomatis mengikuti aliran fundamental yang mengancam NKRI dan Pancasila. Untuk itu, kami akan melakukan pendekatan persuasive, sebelum menjatuhkan sanksi pindah atau dikeluarkan,” kata Nur Solikin.

Ia mengklaim, jika larangan tersebut tidak akan membelenggu kebebasan berekspresi dan berfikir mahasiswa. Karena IAIN Jember, merupakan kampus yang menjadi free market idea, sehingga kekebasan berfikir diberi ruang selama hal itu berkaitan dengan kritisisme, namun jika sudah mengarah ke penolakan NKRI sebagai eksistensi Negara dan pancasila, maka pihaknya tak segan mengeluarkan mahasiswa yang bersangkutan.

“Silakan (berfikir bebas) tapi tetap ada koridor dan rambu-rambu. Ajaran Islam menyebutkan waulil amri minkum, patuh kepada pemimpin negeri ini, termasuk Negara,” ucapnya.

Alasan lainnya, Kampus IAIN Jember memiliki visi, misi dan jargon menjadi pusat perngembangan Islam Nusantara, sehingga harus ada turunan kebijakan melalui peraturan termasuk kurikulum yang diterapkan. Salah satunya, adalah kurikulum pemikiran pendidikan Islam Nusantara.

“Kami membuat peraturan kode etik berpakaian, jadi tidak boleh berpakaian yang tidak sesuai pakaian islam nusantara. (Khawatirnya) meski ada satu atau dua (yang memakai cadar), nanti akan digeneralisir,” ujarnya.

Dosen Wajib Mengikuti

Secara resmi larangan tersebut disampaikan melalui surat edaran yang ditandatangani oleh Rektor IAIN Jember. Surat itu ditujukan kepada dekan-dekan serta direktur paska sarjana untuk ditindak lanjuti dalam peraturan teknis.

Yang selanjutnya harus disebarluaskan dan diinstruksikan kepada para dosen agar disampaikan kepada mahasiswa di awal dan akhir perkuliahaan untuk mengantisipasi dan mengealuasi paham yang anti NKRI dan Pancasila.

“Sekaligus memberikan warning dan pencerahan kepada mahasiswa, agar mereka yang sudah maupun akan (masuk ke paham radikal) untuk kembali ke khittoh, ke jalan yang benar yakni ke pangkuan ibu pertiwi,” ujarnya.

Bagi IAIN Jember, kata Nur Solikin, NKRI merupakan harga mati, sehingga harus dipertahankan dari siapapun yang berusaha merongrong keutuhan NKRI. Apalagi, sambung dia, IAIN Jember telah memiliki misi dan jargon sebagai pusat kajian dan pengembangan Islam Nusantara yang berwatak toleran dan demokratis.

“Karena IAIN Jember memiliki corak yang menghargai perbedaan, baik perbedaan secara internal agama islam maupun eksternal agama-agama yang ada. NKRI juga bagian dari amanah yang tak terpisahkan dari Founding Fathers Indonesia,” tegasnya.

Nur Solikin juga menyatakan, agar para dosen yang menemukan mahasiswa berpaham radikal harus disadarkan. Bahkan bila perlu, dicuci otak untuk diberi pencerahan bahwa islam adalah agama yang ramah, dan cirinya adalah islam nusantara, islam ala Indonesia. Namun bila langkah itu tak mempan, maka pihak kampus akan mengeluarkan mahasiswa tersebut. (Mahrus)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password