Ngopi di Pendopo Bareng Gus Ipul

“Nung Mas Nunung,” begitu Gus Ipul memanggilku. Saya kaget. Saya pun bingung, dari mana dia kenal saya?. Tanpa mau berdebat dengan hati, saya mendekat sesuai permintaan sang Wakil Gubernur Jatim tersebut.

Saya dan Gus Ipul terlibat percakapan panjang. Berbisik dia memuji Bupati Jember. Pemilik nama Syaifullah Yusuf, itu pun memuji terobosan baru sang Bupati Faida. “Betah saya kalau pendopo ada warung kopinya,” kata Gus Ipul sambil melempar senyum.

Kakak kandung Bupati Pasuruan itu, dikenal jago ngopi. Bahkan, dia juga mulai membuat kopi kemasan bergambar dirinya. Tak mau bertanya. Apakah kopi Gus Ipul sebagai instrumen politik, atau hanya sekedar kopi sachet biasa. Namun yang pasti, ngopi dengan orang nomer dua di Pemprov Jatim itu sangat berkesan.

Gus Ipul punya kopi. Giliran saya pamer kopi Jemberan. Kopi Kahyangan sudah pasti. Semakin pasti, saat barista meracik kopi yang begitu pekat rasanya. “Jangan diberi gula gus. Supaya rasanya lebih strong,” saran saya ke pemilik kumis tipis itu. “Begitu ya?,” jawabnya.

Gelengkan kepala. Gus Ipul begitu menikmati mantabnya Kopi Ketajek racikan barista. “Jember memang gudangnya kopi enak,” pujinya. “Bukan hanya Jember Gus, tapi Jatim. Seperti slogan kopi Gus Ipul,” begitu saya mencoba membalasnya. Gus Ipul pun tertawa membenarkan perkataan saya.

Kopi bukan lagi menjadi tradisi. Namun melipat gandakan kekuatan ekonomi. Tentunya, ekonomi kerakyatan. Tak heran, jika Bupati Faida, sengaja mendisain di sudut ruang tamu Pendopo Jember, sebagai warung kopi. “Bupati Jember memang serius,” katanya.

Kopi pun habis. Kegiatan resmi sang wagub mulai dilanjut. Saat hendak meninggalkan kursi di sampingku, mulut ini mencoba berani tanya padanya. “Gus Ipul tahu dari mana nama saya?,” kataku padanya. “Itu di sakumu. Ada Press Card bernama Nunung Wahyudianto,” jawabnya dengan nada keakraban. (Pendopo Jember, 1 November 2016).

(Nunung : IndikatorOnline)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password