Siswa Miskin “Dilarang” Sekolah Karena Tak Lunas Biaya

JEMBER – Achmad Susanto, siswa miskin asal Desa Sukoreno, Umbulsari, nyaris putus sekolah karena tak mampu melunasi biaya yang mencapai Rp 6 jutaan. Dia tak diberi kartu ujian setengah semester genap di SMKN 8 Jember yang ada di Semboro.

Kabar demikian terdengar anggota Komisi D DPRD Jember, Indriati. Bersama Kepala Desa (Kades) Sidomekar Sugeng Priadi, mereka mendatangi sekolah tersebut. Siswa miskin itu diantar masuk sekolah, bersama ayahnya yang tak lain seorang buruh tani.

Indriati menyayangkan sikap sekolah, karena dinilai tak sesuai semangat pemerintah wajib belajar 12 tahun. Apalagi, Pemkab Jember mulai merintis sekolah gratis. “Ironi, padahal anaknya mau nyicil Rp 300 ribu tapi ditolak, harus bayar Rp 1.200.000,” ungkap politisi PDIP.

Saat ditemui di sekolah, Kepala SMKN 8 Jember Suratno, mengelak tuduhan demikian. Katanya yang terjadi hanya miss komunikasi. “Saya rasa hanya kesalahpahaman,” elaknya.

Dia mengaku, pihaknya bersikap tegas karena khawatir uang sudah diberi orang tua, namun tidak dibayar ke sekolah. “Kalau orang tua ke sekolah, kami perbolehkan masuk,” jelasnya. Terkait biaya yang mencapai Rp 6 jutaan, katanya jumlah tersebut akumulasi dari biaya lain-lain. Sementara biaya isendental atau sumbangan, ditentukan mencapai Rp 2.700.000.

Setelah ditegur anggota dewan, kemudian kepala sekolah memberi kartu ujian siswanya. Setelah itu, baru siswa tersebut kembali diperbolehkan masuk kelas. (rif)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password